Sunday, December 2, 2007
![]() Sumber: WIKIMU Profesor Termuda di Amerika Adalah Orang Indonesia Senin, 12-11-2007 09:28:00 oleh: Norman Sasono Kanal: Gaya Hidup Profesor Termuda di Amerika Adalah Orang Indonesia Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya "pulang ke Jepang" untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa? Di artikel wikimu dari Ardian Syam di awal tahun 2007 ini, http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=826, dibahas sedikit tentang Prof. Nelson Tansu ini. Di artikel ini, akan dibahas lebih jauh siapa sih Profesor Nelson Tansu ini yang termasuk peraih gelar profesor termuda di Amerika. Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang. Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award" mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia. Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk "pulang". Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia. Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia. Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu. Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia. Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional? Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia. Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk "cari makan". Dari diskusi saya dengan beberapa dosen di Indonesia, kelihatannya semua meng-iya-kan apa yang Prof. Tansu gambarkan tentang dunia perguruan tinggi di Indonesia. Hmm, memprihatinkan. Sumber: Website resmi Prof. Nelson Tansu: http://www3.lehigh.edu/engineering/ece/tansu.asp Majalah Campus Asia Volume 1 Number 1 October 2007 Read more! |
| Sumber Republika-online, Minggu, 02 Desember 2007 Nelson Tansu PhD Mengenalkan Potensi Indonesia ![]() Oleh : Kabar itu sampai di telinga Nelson Tansu. Iskandar Tansu dan Lily Auw, orang tua Nelson, dibunuh perampok, Agustus 2007, di Medan. Ia segera terbang ke Indonesia. ''Pelaku kriminal perampokan dan pembunuhan yang tidak manusiawi terhadap kedua orangtua kami telah mengambil hal yang paling berharga bagi keluarga kami, yaitu kedua orang tua yang kami cintai,'' kata Nelson, yang tinggal di Amerika Serikat. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menganggap kedua orangtuanya punya peran besar dalam menanamkan kepercayaan dan kerja keras hingga ia bisa mencapai kondisi seperti saat ini. ''Mereka orang tua yang sangat baik dalam memberikan contoh-contoh yang baik dalam hidup,'' ujar dia. Nelson Tansu, pria kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu menyelesaikan program PhD (doktor) di usia 25 tahun di University of Wisconsin, Madison, Amerika. Di usia 26 tahun, ia sudah menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania. Ini adalah universitas unggulan di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast. Di Lehigh, Nelson mengajar mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer. Hasil risetnya bertebaran di jurnal ilmiah internasional. Ia sering diundang ke berbagai seminar, konferensi, dan pertemuan intelektual di negeri itu. ''Beberapa temuan kami yang telah dipublikasi dan dipatenkan mencakup teknologi semiconductor nanostructures yang digunakan untuk merealisasikan high power semiconductor lasers, semiconductor lasers untuk optical communications, semiconductor lasers untuk biological sensors, dan juga semiconductor technology untuk solid state lighting technology,'' papar Nelson. Mantan finalis Olimpiade Fisika 1995 itu telah meraih penghargaan dari temuan-temuannya itu. Sebagai profesor muda berwajah khas Asia di perguruan tinggi ternama di Amerika, tak banyak yang mengira ia berasal dari Indonesia. ''Memang kebanyakan orang Asia Timur yang menjadi profesor di universitas di Amerika berasal dari Jepang, Korea, Cina, dan Taiwan, sehingga sering sekali saya dikira berasal dari negara-negara tersebut. Biasanya sewaktu saya menjelaskan bahwa saya berasal dari Indonesia, mereka malah terkejut ada orang Indonesia berkarier di bidang fisika dan teknik,'' ucapnya. Setelah melewati suasana duka, Nelson melayani pertanyaan dari wartawan Republika, Burhanuddin Bella, Oktober 2007. Berikut petikannya. Turut berduka cita atas meninggalnya ayah-ibu akibat kekejaman perampok. Terima kasih. Tentu saya sangat sedih dan kecewa dengan pelaku kriminal yang kejam tersebut. Orang tua saya orang baik, sangat berjasa dalam hidup semua anak-anak mereka. Saya mendengar berita ini dari adik saya, Inge Tansu, di Minggu pagi (12 Agustus 2007, pukul 07.00 pagi di Amerika, sekitar jam 7 malam di Medan). Inge memberitakan, keluarga telah mencari orangtua kami selama enam jam. Adik saya sangat khawatir sewaktu memberitahukan kepada saya. Dia sedih dan bingung sekali. Saya sendiri harus terbang ke pertemuan konferensi, di mana saya harus memberikan beberapa seminar di dua tempat di hari Senin (Salt Lake City, Utah) dan Selasa (Baltimore, Maryland). Jadi, saya harus terbang di Minggu pagi itu. Kami sekeluarga berkoordinasi dengan keluarga yang ada di Medan dan Jakarta, membantu mencari. Sekitar pukul 11 siang di Amerika Serikat (jam 11 malam di Medan), saya mendapatkan berita, polisi menemukan dua jenazah, lelaki dan wanita. Abang saya (Tony Tansu) dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melakukan verifikasi. Jujur, mendengar kabar itu, saya merasa lemas sekali karena memang ada perasaan bahwa kedua jenazah tersebut mungkin orang tua kami. Benar saja. Setengah jam berikutnya, mereka telepon lagi dengan sedih sekali menyatakan kedua jenazah tersebut adalah orang tua kami yang sangat kami cintai. Tentu berat menghadapi peristiwa ini. Tentu musibah itu menganggu aktivitas saya di universitas. Tapi, saya beruntung, banyak dukungan yang diberikan oleh teman-teman orang tua, keluarga, dan juga masyarakat Medan. Mereka semua membantu kami. Dukungan dan pengertian yang sangat luar biasa juga diberikan oleh Lehigh University untuk membantu saya dapat menghadapi musibah ini. Saya bersyukur atas dukungan itu. Tanpa itu, saya tidak tahu bagaimana kami sekeluarga dapat menghadapi hal yang sangat sedih ini. Lehigh University langsung memberikan akomodasi kepada saya untuk dapat menghadiri pemakaman. Saya bersyukur atas hal ini. Sekarang, kegiatan saya di universitas telah berlangsung dengan normal dan sibuk seperti biasa. Kegiatan apa saja yang banyak menyita waktu Anda selama ini? Aktivitas sehari-hari mencakup riset, pemberian lectures, memberi seminar di beberapa conferences dan universitas lain. Juga melakukan tugas komite di universitas, tingkat nasional (di USA), dan internasional. Selain melakukan riset theory and experiments, saya juga terlibat langsung dalam membimbing riset untuk mahasiswa PhD dan postdoctoral research fellow di grup kami (www.ece.lehigh.edu/~tansu) di Lehigh University. Kegiatan kampus saya kira-kira 40 persen melakukan riset (termasuk riset, menulis proposal riset untuk mendapatkan dana riset, mempersiapkan dan menyelesaikan tulisan ilmiah, dan memberi bimbingan terhadap mahasiswa PhD / S3 dan postdoctoral, 25 persen mempersiapkan dan memberi kuliah, 15 persen memberikan seminar di konferensi dan universitas lain, 10 persen memberikan advis kepada mahasiswa S1 dan S2, 10 persen lainnya melakukan tugas-tugas komite untuk universitas dan juga National Science Foundation di Amerika Serikat. Aktivitas di luar kampus hanya melakukan kegiatan bersama dengan istri saya, Adela Gozali Yose, di rumah. Anda profesor muda di perguruan tinggi ternama di AS. Bagaimana ceritanya sampai mendapatkan penghargaan seperti itu? Dunia akademik Amerika sangat kompetitif untuk menjadi profesor di universitas top. Kita harus memiliki dedikasi yang sangat tinggi dalam mendalami bidang akademik dan riset. Sejak pertama kali melanjutkan pendidikan di Amerika, saya memang bertekad melanjutkan sampai PhD dan menjadi profesor di universitas AS di kemudian hari. Sebab itu, waktu dalam proses S1, saya sebenarnya tidak pernah punya tujuan lain selain untuk mencapai gelar PhD. Saya tidak pernah menanyakan syarat apa yang diperlukan untuk tamat S1, tapi saya lebih suka mengambil kelas-kelas tingkat atas (seperti tingkat Master dan PhD) yang ingin saya selesaikan sebelum tamat S1. Terutama kelas-kelas fisika, saya memang banyak menyelesaikan kelas-kelas graduate (PhD core classes-nya) sebelum tamat S1, Mei 1998. Sewaktu melanjutkan ke program PhD di Universitas Wisconsin-Madison, saya tidak pernah mencari tahu requirement minimum yang diperlukan untuk tamat, tapi saya lebih berusaha memaksimalkan usaha dan potensi saya dengan belajar dan bekerja keras untuk mencapai academic and research excellence. Salah satu pendirian saya, ''Kita harus berusaha keras dengan tujuan untuk mencapai ambisi setinggi dan sejauh bulan. Jikalaupun gagal ke bulan, kita mungkin akan berada di puncak Mount Everest yang sudah merupakan tujuan tertinggi yang bisa dicapai di dunia.'' Adakah tawaran yang sama di perguruan di luar Amerika? Sebenarnya saya sendiri mendapat tawaran untuk menjadi profesor di universitas-universitas di Taiwan dan Jerman pertengahan tahun 2002, tapi karena satu dan lain sebab, maka saya tidak menerima kedua posisi tersebut. Lalu, saya mendapat tawaran dari beberapa universitas bagus di Amerika dan Kanada sekitar akhir 2002 dan awal 2003. Setelah berbagai pertimbangan, saya menerima masuk ke Lehigh University. Proses wawancara untuk menjadi profesor di Amerika sangat susah. Contohnya untuk posisi profesor di Lehigh University, yang melamar menjadi profesor (untuk satu posisi) bisa mencapai sekitar 300-an, semuanya PhD, banyak di antaranya punya pengalaman kerja. Apa pertimbangan Anda memilih Lehigh University? Sebenarnya, waktu saya melihat kesempatan untuk berkarier di bidang riset dan akademik di universitas, saya sendiri memiliki berbagai kesempatan baik di Amerika, Kanada, Eropa, dan Asia. Ada tiga universitas AS, dua di Kanada, satu di Eropa, dan dua di Asia (bukan Indonesia) yang menawarkan posisi untuk menjadi profesor. Tapi, saya memilih Lehigh University karena saya menilai dukungan dari universitas yang sangat besar untuk kesuksesan riset saya di bidang fisika terapan dan semikonduktor nanoteknologi. Untuk melakukan riset di bidang saya, diperlukan banyak fundings dan waktu untuk mendirikan laboratorium yang berbobot di bidang semikonduktor nanoteknologi. Saya dan group members di grup kami telah menginvestasi beberapa tahun untuk mengembangkan laboratorium yang sangat lengkap saat ini. Apa karena imbalan yang diberikan lebih besar atau ada pertimbangan lain? Imbalan tentu hal penting untuk mencapai stabilitas finansial dalam hidup. Tapi, imbalan bukanlah faktor yang paling penting. Saya memilih Lehigh lebih disebabkan kesempatan untuk melakukan riset di universitas yang bagus di AS. Saya sering sekali ditanya mengenai bagaimana cara mengembangkan universitas di Indonesia. Saya rasa, imbalan bagi profesor-profesor dan dosen Indonesia adalah hal yang harus diperhatikan dengan baik. Bagaimana andai pemerintah Indonesia meminta Anda kembali untuk mengembangkan ilmu Anda dan menularkan kepada siswa-siswa di Indonesia? Tanpa diminta pemerintah Indonesia pun, saya sendiri telah aktif membantu Indonesia dari Amerika. Saya selalu aktif berusaha menarik mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan S-3/PhD di Lehigh University. Jika memang ada posisi yang tepat dan pas, serta waktu yang tepat, untuk berkontribusi maksimal bagi negara di Indonesia, tentu saja dengan senang saya akan bersedia untuk mempertimbangkan mengembangkannya di Indonesia. Saya sendiri merasa sangat produktif dalam tugas saya di Lehigh sebagai profesor. Tapi, jika memang ada posisi yang tepat di Indonesia, saya rasa saya akan lebih memiliki keinginan mengabdi di universitas, sebagai profesor dan administrator, seperti dekan/rektor. Aspirasi saya supaya bisa merealisasikan universitas yang sangat berkualitas di Indonesia, yang dapat masuk dalam top 10 universitas di tingkat Asia. Saya sangat percaya, ini hal yang sangat penting dan tujuan ini dapat tercapai jika kita bekerja dengan keras bersama-sama di Indonesia. Read more! |



