Photobucket



PIMNAS 20 Unila



Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Product ...

Services ...

Other things ...

Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia






Sumber Republika-online, Minggu, 02 Desember 2007N...

Sumber; Republika, Senin, 12 Nopember 2007Sistem A...

Senin, 17 September 2007Politeknik Masih Tetap Mem...

Pedoman PKM 2007

Proposal PKM

PENGEMBANGAN KEMITRAAN UNTUK PENINGKATAN KUALITAS ...

Politeknik Manufaktur ASTRABersama Astra Cerdaskan...

Saatnya Perguruan Tinggi Berbenah JAKARTA—Belum la...

MOU dan SEMINAR IM2 Cyber Campus Connectivity to G...

Gunadarma




  • ABC Australia
  • Asian Wall Street Journal
  • Australian Financial Review
  • BBC News
  • Bisnis
  • Detikcom
  • Guardian
  • Jawa Pos
  • Kompas
  • Kontan
  • Media Indonesia
  • Salon
  • Slate
  • Sydney Morning Herald
  • The Age
  • The Australian
  • The Jakarta Post
  • Today Singapore
  • Washington Post
  • Wired
  • Abdurrahman Wahid
  • Fauzi Rahmanto (Entrepreneur)
  • Agussyafii
  • Adi J. Mustafa
  • Adrian Liem
  • Ady Permadi
  • Agusti Anwar
  • Alin Hulsbos
  • Anastasia Dyah Arianti
  • Anif Putramijaya
  • Anthony Bachtiar
  • Arif Bastari
  • Aryan Wirawan
  • Astri Onengan
  • Awasi Parlemen
  • BAPPENAS
  • CETRO
  • Chika Hakim
  • CSIS
  • Dana Mitra Lingkungan
  • Dee Caniago
  • Deny
  • Dept. Kelautan & Perikanan
  • Dhian Komala
  • DKI Jakarta
  • DPD RI
  • DPR RI
  • Enda Nasution
  • Faisal Basri
  • Fareed Zakaria
  • Fatayat NU
  • Fathia Syarif
  • Fira Basuki
  • GP Ansor
  • Harry Baskoro
  • Helsusandra Syam
  • Hendra Syahputra Blog
  • Hendy Kosasih
  • Hidayat Nur Wahid
  • Hukumonline
  • Ikhlasul Amal
  • ILD (Hernando de Soto)
  • Indonesia Corruption Watch
  • INFID
  • Institute for Global Justice
  • International IDEA
  • Iwan Darmansjah, MD
  • J.H. Wenas
  • Jarak Pagar
  • Jaringan Islam Liberal
  • Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat
  • John MacDougall
  • Jurnal Perempuan
  • Juwono Sudarsono
  • Kemitraan
  • Komisi Pemilihan Umum
  • Lakpesdam NU
  • Lembaga Survei Indonesia
  • Leuser Foundation
  • LP3ES
  • Marina Mayangsari
  • Marissa Haque
  • MER-C
  • MPR RI
  • Muhammadiyah
  • Mustofa Bisri
  • Nahdlatul Ulama
  • Nurul Arifin
  • Petisi Nasional
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • PSHK (Parlemen)
  • Rahman Sayidi
  • RAND Corporation
  • Rendy Maulana
  • Republik Indonesia
  • Sari Koeswoyo
  • Sarwono's Blog
  • Senopati Wirang
  • Sigit Widyananto
  • Suara Publik
  • Sulfikar Amir
  • Susilo Bambang Yudhoyono
  • Sutiyoso
  • Syahrani
  • Tito
  • Transparansi Indonesia
  • Uncu Natsir
  • Uni Sosial Demokrat
  • USAID
  • Van Zorge Report
  • Wahid Institute
  • WALHI
  • Wana Sherpa
  • Wimar Witoelar
  • Yosef Ardi
  • Zukri Saad
  • A. Fatih Syuhud
  • Alief A. Rezza
  • Aree Witoelar
  • Arif M Rizal
  • Astrid Lewarissa
  • Aulia Halimatussadiah
  • Bill Guerin
  • Brainstorm
  • Budea
  • Budi Putra
  • Cafe Salemba
  • Christine Susanna Tjhin
  • Clara Lila
  • Daisy Awondatu
  • Deden Rukmana
  • Devi Girsang
  • Dian Karnina
  • Eko Susilo
  • Enda Nasution
  • Erna Indriana
  • Fadjar I. Thufail
  • Fanny Surjana
  • Fira Basuki
  • Franova Herdiyanto
  • Harum
  • Hayatuddin Mansur
  • Herdiny Wulandari
  • Indonesia Anonymus
  • Jakartass
  • Jennie S. Bev
  • John MacDougall
  • Juwono Sudarsono
  • Kalbu Biru
  • Khatrine Sipahutar
  • Lita Mariana
  • Louise Tiwon
  • Lullu
  • Luluk
  • Macam-Macam
  • Madame Meltje
  • Marsha Siagian
  • Martin Manurung
  • Melda Wita
  • Mohammad DAMT
  • Ninit Yunita
  • Onoloro
  • Paras Indonesia
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • Rasyad A. Parinduri
  • Richard Lloyd Parry
  • Rizka Nurlita Andi
  • Sandhy<;/li>
  • Sarwono Kusumaatmadja
  • Satya Witoelar
  • Syahrani
  • Thang Nguyen
  • Widya Tresna Utami
  • Wisnu Aryo Setio
  • Yassin Hidayat
  • Yosef Ardi
  • Machinery Tool
  • Movie Music Reviews
  • Pet Supply Store
  • Easy Light Digital
  • Jewelry Buying Guides
  • Talk About Cancer
  • New Car Auto Part
  • Baby Stores
  • Online Florist
  • New Car Auto Part
  • a target="_blank" href="http://www.finalsense.com/software/software_information_review.htm">Downloads
    Technology News
    Templates
    Web Hosting
    Articles
    Games
    Blogger
    Google



    Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay

    Sunday, December 2, 2007

    Sumber: WIKIMU

    Profesor Termuda di Amerika Adalah Orang Indonesia

    Senin, 12-11-2007 09:28:00 oleh: Norman Sasono
    Kanal: Gaya Hidup
    Profesor Termuda di Amerika Adalah Orang Indonesia

    Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya "pulang ke Jepang" untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa?



    Di artikel wikimu dari Ardian Syam di awal tahun 2007 ini, http://www.wikimu.com/News/Print.aspx?id=826, dibahas sedikit tentang Prof. Nelson Tansu ini. Di artikel ini, akan dibahas lebih jauh siapa sih Profesor Nelson Tansu ini yang termasuk peraih gelar profesor termuda di Amerika.

    Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

    Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award" mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia.

    Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk "pulang". Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia. Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika, ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia. Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

    Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia. Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

    Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia. Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk "cari makan".

    Dari diskusi saya dengan beberapa dosen di Indonesia, kelihatannya semua meng-iya-kan apa yang Prof. Tansu gambarkan tentang dunia perguruan tinggi di Indonesia. Hmm, memprihatinkan.

    Sumber:
    Website resmi Prof. Nelson Tansu: http://www3.lehigh.edu/engineering/ece/tansu.asp
    Majalah Campus Asia Volume 1 Number 1 October 2007



    0 Comments:

    Post a Comment

    << Home