Photobucket



PIMNAS 20 Unila



Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Product ...

Services ...

Other things ...

Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia






Rabu, 10 Maret 2004Trilogy of Governance (I) Corpo...

Informasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat NasionalR...

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1. Dasar Pemikiran...

onmouseover='this.stop()' onmouseout='this.start()...

onmouseover='this.stop()' onmouseout='this.start()...




  • ABC Australia
  • Asian Wall Street Journal
  • Australian Financial Review
  • BBC News
  • Bisnis
  • Detikcom
  • Guardian
  • Jawa Pos
  • Kompas
  • Kontan
  • Media Indonesia
  • Salon
  • Slate
  • Sydney Morning Herald
  • The Age
  • The Australian
  • The Jakarta Post
  • Today Singapore
  • Washington Post
  • Wired
  • Abdurrahman Wahid
  • Fauzi Rahmanto (Entrepreneur)
  • Agussyafii
  • Adi J. Mustafa
  • Adrian Liem
  • Ady Permadi
  • Agusti Anwar
  • Alin Hulsbos
  • Anastasia Dyah Arianti
  • Anif Putramijaya
  • Anthony Bachtiar
  • Arif Bastari
  • Aryan Wirawan
  • Astri Onengan
  • Awasi Parlemen
  • BAPPENAS
  • CETRO
  • Chika Hakim
  • CSIS
  • Dana Mitra Lingkungan
  • Dee Caniago
  • Deny
  • Dept. Kelautan & Perikanan
  • Dhian Komala
  • DKI Jakarta
  • DPD RI
  • DPR RI
  • Enda Nasution
  • Faisal Basri
  • Fareed Zakaria
  • Fatayat NU
  • Fathia Syarif
  • Fira Basuki
  • GP Ansor
  • Harry Baskoro
  • Helsusandra Syam
  • Hendra Syahputra Blog
  • Hendy Kosasih
  • Hidayat Nur Wahid
  • Hukumonline
  • Ikhlasul Amal
  • ILD (Hernando de Soto)
  • Indonesia Corruption Watch
  • INFID
  • Institute for Global Justice
  • International IDEA
  • Iwan Darmansjah, MD
  • J.H. Wenas
  • Jarak Pagar
  • Jaringan Islam Liberal
  • Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat
  • John MacDougall
  • Jurnal Perempuan
  • Juwono Sudarsono
  • Kemitraan
  • Komisi Pemilihan Umum
  • Lakpesdam NU
  • Lembaga Survei Indonesia
  • Leuser Foundation
  • LP3ES
  • Marina Mayangsari
  • Marissa Haque
  • MER-C
  • MPR RI
  • Muhammadiyah
  • Mustofa Bisri
  • Nahdlatul Ulama
  • Nurul Arifin
  • Petisi Nasional
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • PSHK (Parlemen)
  • Rahman Sayidi
  • RAND Corporation
  • Rendy Maulana
  • Republik Indonesia
  • Sari Koeswoyo
  • Sarwono's Blog
  • Senopati Wirang
  • Sigit Widyananto
  • Suara Publik
  • Sulfikar Amir
  • Susilo Bambang Yudhoyono
  • Sutiyoso
  • Syahrani
  • Tito
  • Transparansi Indonesia
  • Uncu Natsir
  • Uni Sosial Demokrat
  • USAID
  • Van Zorge Report
  • Wahid Institute
  • WALHI
  • Wana Sherpa
  • Wimar Witoelar
  • Yosef Ardi
  • Zukri Saad
  • A. Fatih Syuhud
  • Alief A. Rezza
  • Aree Witoelar
  • Arif M Rizal
  • Astrid Lewarissa
  • Aulia Halimatussadiah
  • Bill Guerin
  • Brainstorm
  • Budea
  • Budi Putra
  • Cafe Salemba
  • Christine Susanna Tjhin
  • Clara Lila
  • Daisy Awondatu
  • Deden Rukmana
  • Devi Girsang
  • Dian Karnina
  • Eko Susilo
  • Enda Nasution
  • Erna Indriana
  • Fadjar I. Thufail
  • Fanny Surjana
  • Fira Basuki
  • Franova Herdiyanto
  • Harum
  • Hayatuddin Mansur
  • Herdiny Wulandari
  • Indonesia Anonymus
  • Jakartass
  • Jennie S. Bev
  • John MacDougall
  • Juwono Sudarsono
  • Kalbu Biru
  • Khatrine Sipahutar
  • Lita Mariana
  • Louise Tiwon
  • Lullu
  • Luluk
  • Macam-Macam
  • Madame Meltje
  • Marsha Siagian
  • Martin Manurung
  • Melda Wita
  • Mohammad DAMT
  • Ninit Yunita
  • Onoloro
  • Paras Indonesia
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • Rasyad A. Parinduri
  • Richard Lloyd Parry
  • Rizka Nurlita Andi
  • Sandhy<;/li>
  • Sarwono Kusumaatmadja
  • Satya Witoelar
  • Syahrani
  • Thang Nguyen
  • Widya Tresna Utami
  • Wisnu Aryo Setio
  • Yassin Hidayat
  • Yosef Ardi
  • Machinery Tool
  • Movie Music Reviews
  • Pet Supply Store
  • Easy Light Digital
  • Jewelry Buying Guides
  • Talk About Cancer
  • New Car Auto Part
  • Baby Stores
  • Online Florist
  • New Car Auto Part
  • a target="_blank" href="http://www.finalsense.com/software/software_information_review.htm">Downloads
    Technology News
    Templates
    Web Hosting
    Articles
    Games
    Blogger
    Google



    Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay

    Sunday, August 5, 2007
    Minggu, 05 Agustus 2007

    Kuliah di PTN Lebih Mahal Dibanding PTS

    Kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) berbiaya mahal? Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Dr Ir H Suharyadi MS, menilai anggapan itu tak relevan lagi. Apa alasannya? Berikut petikan wawancara dengan Republika:


    Bagaimana perkembangan jumlah PTS?
    Saat pertama menjabat [sebagai ketua umum Aptisi] tahun 2004, jumlahnya masih 2.100-2.200. Sekarang sudah 2.761 dengan jumlah mahasiswa sekitar 2,7 juta. Jadi, hampir setiap tahun terjadi penambahan 500 PTS baru.

    Menurut Anda ini keberhasilan?
    Keberhasilan menambah jumlah, ha,ha,ha. PTS sekarang terlalu banyak. Setiap sudut ada PTS. Sejak dulu saya menyarankan pemerintah menyetop pendirian PTS baru, atau menyeleksi dengan sangat ketat.

    Jumlah PTS yang ideal di Indonesia berapa?
    Kalau mau berkembang dengan bagus, rata-rata mahasiswa setiap PTS tidak boleh kurang dari 2.500. Sehingga dengan logika sederhana saja, kalau mahasiswa PTS sekarang sekitar 2,7 juta, idealnya hanya ada 1.000 PTS. Saya menyarankan Depdiknas membuat peta PTS untuk mengetahui dari 2.761 itu yang seharusnya sudah mendapat surat ditutup berapa sih. Karena ada yang nggak punya kegiatan, tinggal nama, gedung saja nggak punya. Jadi, PTS yang ada tinggal yang benar-benar eksis. Sejak dulu saya minta kepada teman-teman agar dalam mengelola perguruan tinggi lebih memikirkan jangka panjang, agar tidak ditinggalkan masyarakat. Kalau PTS tidak dipercaya, lama-lama kan akan mati.

    Jumlah PTS meningkat, tapi jumlah mahasiswanya menurun. Mengapa? Jumlah lulusan SLTA kan meningkat?
    Jumlah lulusan SLTA tak bisa dipakai sebagai landasan untuk memprediksi jumlah mahasiswa. Karena kalau kita bicara potensi mahasiwa, bergantung kemampuan orangtua menyekolahkan putra-putrinya setelah lulus SLTA atau angka partisipasi kasar (APK)-nya. Sekarang APK kita masih 13 persen. Jadi, misalnya ada satu juta lulusan, hanya 13 ribu yang masuk perguruan tinggi.

    Apakah penurunan jumlah mahasiswa bukan disebabkan kualitas PTS?
    Saya kira, kalau bicara semata-mata kualitas PTS yang kurang bagus, nggak fair. Karena banyak PTS yang kualitasnya bagus, punya prasarana dan sarana bagus, dosennya yang guru besar dan doktor sudah banyak, alumninya sudah menyebar ke mana-mana, tapi tetap saja jumlah mahasiswanya menurun.

    Apakah karena PTN membuka jalur khusus?
    Salah satunya pasti itu, bukan kira-kira lagi. Pengaruh jalur khusus sangat signifikan. Sekarang terjadi euforia [di PTN]. Hampir semua program studi di PTN membuka program macam-macam dan jumlah mahasiswanya berlipat.

    Artinya penurunan jumlah mahasiswa PTS karena diambil oleh PTN?
    Sebelum pengumuman SPMB, saya bertemu beberapa rektor. Dari pembicaraan saya dengan rektor Undip --dan saya kira hampir semua rektor sama-- SPMB hanya menyeleksi 25-30 persen dari total mahasiswa yang diterima. Yang lainnya ngambil di luar itu.
    Bahkan sekarang walaupun SPMB sudah diumumkan, PTN masih buka jalur khusus. Saya lihat pengumuman di surat kabar ada yang tanggal 30 Agustus masih tes. Sehingga yang tadinya dalam tanda kutip adalah jatahnya PTS --karena kalau tak diterima SPMB otomatis ke PTS-- sekarang masih direkrut lewat jalur khusus.
    Sekarang juga kan semua IKIP menjadi universitas yang membuka program-program umum nonkeguruan. Itu juga luar biasa menerima mahasiswa barunya. IAIN juga sekarang menjadi UIN, yang juga membuka program-program umum.
    Saya protes itu itu sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi, setelah bicara, ketemu menteri dan dirjen untuk membicarakan masalah itu, tidak terjadi perubahan. Bahkan kecenderungannya PTN terus menambah jumlah mahasiswanya.

    Apa yang kira-kira terjadi bila terus begini?
    Kalau kita bicara secara teoretis, saya kira antara kualitas dan kuantitas itu ada trade off. Ada suatu proses berkebalikan. Artinya, kalau kita mementingkan kuantitas, kualitas dikalahkan. Kalau kita mementingkan kualitas, kuantitas yang dikalahkan.
    Oleh karena itu, saya kira sulit terbantahkan, dengan PTN menambah jumlah mahasiswa menjadi sangat banyak, saya punya keyakinan kualitas PTN akan turun. Pertama, karena seleksi mahasiswanya tak seketat dulu. Kedua, antara program reguler, ekstension, dan program yang lain terjadi tarik-menarik tenaga dosen sehingga pasti ada yang dikorbankan juga.
    Memang proses atau bukti terjadinya penurunan kualitas itu baru bisa dilihat dalam jangka panjang. Paling tidak setelah perguruan tinggi meluluskan lima angkatan baru bisa kelihatan. Sehingga semakin lama akan terbentuk generasi penerus yang kualitasnya berkurang.
    Seharusnya PTN dalam menerima mahasiswa baru harus betul-betul melihat kebutuhan bangsa itu apa sih, karena dia dibiayai negara. Kalau kita lihat sekarang, PTN banyak membuka program ilmu-ilmu sosial yang sebetulnya sudah jenuh dan di PTS pun sudah banyak. Kalau ilmu-ilmu sosial sudah banyak lulusannya, jangan dibuka besar-besaran dong.

    Apakah kalau PTN menyelenggarakan program studi yang lulusannya sudah banyak, artinya PTN mencetak banyak penganggur?
    Yaa, kira-kira begitulah. Karena kalau jumlah yang diluluskan sekian banyak, sementara yang dibutuhkan masyarakat tidak banyak, sisanya kan menganggur.

    Selama ini orang menilai PTN lebih baik dari PTS. Apakah sudah mulai ada pergeseran?
    Saya kira sudah mulai banyak orang-orang tua yang tak hanya melihat 'N' dan 'S'-nya, tapi melihat kualitas program studi perguruan tinggi bersangkutan. Walaupun jumlahnya memang belum terlalu banyak dibanding yang masih berpikir yang penting pokoknya diterima di 'N' itu berkualitas.

    Setelah ada 'jalur khusus', apakah biaya kuliah di PTS saat ini masih lebih mahal dibanding PTN?
    Untuk mahasiswa yang masuk PTN lewat SPMB masih murah. Tapi jumlahnya kan hanya sekitar 25-30 persen. Yang 70 persen masuk lewat jalur khusus otomatis mahal. Karena itu, sekarang ini stigma di masyarakat PTN itu mahal. Bahkan, kalau dirata-ratakan, biaya kuliah di PTN saat ini lebih mahal dibanding PTS.
    (run )



    0 Comments:

    Post a Comment

    << Home