Monday, August 6, 2007
| Senin, 06 Agustus 2007 12:26:00 Program Baru, Metode Belajar Baru Hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sudah diumumkan. Bagi siswa yang beruntung, dapat mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) pilihannya. Sedangkan bila yang kurang beruntung, maka perguruan tinggi swasta (PTS) dapat menjadi satu pilihan alternatif. Sebenarnya, saat ini PTN dengan PTS tidak memiliki banyak perbedaan, bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada bedanya. Baik dari segi kualitas maupun dari segi biaya pendidikannya. "Mungkin dulu banyak orang yang ingin masuk ke PTN karena biaya pendidikan yang jauh lebih murah dibandingkan dengan PTS, tapi kini sama saja," jelas Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Dr Hj Masyitoh, M Ag. Karena sudah tidak ada perbedaan, kompetisi terbuka lebar bagi PTN dan PTS. Untuk itu setiap PTS harus memberikan pendidikan yang berkualitas atau pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bahkan, kalau perlu, menawarkan program studi (prodi) baru. Seperti UMJ yang menawarkan prodi Kedokteran Umum yang terbilang masih baru. Prodi yang berada di bawah Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ini baru berjalan sejak September 2003. Namun, meskipun terbilang baru, prodi Kedokteran Umum di UMJ memiliki keunikan tersendiri, yaitu waktu yang relatif lebih singkat bagi mahasiswa untuk mendapatkan gelar dokter. Hal ini menjadi mungkin dengan metode pembelajaran yang digunakan prodi Kedokteran Umum UMJ. "Dengan metode Problem Based Learning (PBL) mahasiswa dapat menyelesaikan studinya hanya dalam lima tahun," tambah Masyitoh kemudian. Dari lima tahun tersebut, tiga tahun digunakan untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Sementara dua tahun sisanya digunakan untuk program magang (studi profesi) di teaching hospital. Setelah melewati dua proses ini barulah seseorang diperbolehkan menggunakan gelar dokter. PBL merupakan metode pendidikan di mana mahasiswa diberikan suatu masalah atau problem untuk kemudian dicari pemecahannya berdasarkan materi-materi kuliah yang sudah diberikan sebelumnya. Sehingga dengan program PBL ini, tidak ada lagi pengulangan materi yang disampaikan kepada mahasiswa. Untuk hospital teaching, UMJ biasanya bekerja sama dengan rumah sakit yang dimiliki oleh Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Jakarta saja tercatat ada sekitar empat rumah sakit milik Muhammadiyah. PBL Prodi baru lain yang menerapkan metode PBL adalah Prodi Keperawatan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPN). Prodi yang didirikan pada tahun 2003 lalu ini, menerapkan PBL mulai tahun ini. "Ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa UPN," jelas Ketua Jurusan Prodi Keperawatan UPN Desak Nyoman Sithi, S Kp MARS. Selain Prodi Keperawatan, prodi baru lainnya adalah Prodi Kesehatan Masyarakat (PKM). Umur prodi ini setahun lebih tua dari Prodi Keperawatan. Berbeda dengan Prodi Keperawatan, penerapan PBL masih dalam tahap persiapan. PKM memiliki dua peminatan, yaitu Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (Manajemen Kesehatan). Prodi Keperawatan dan PKM merupakan salah satu prodi baru yang dimiliki UPN. Latar belakang dibuatnya Prodi Keperawatan adalah melihat kebutuhan tenaga kerja perawat yang cukup tinggi. Baik untuk di dalam negeri terlebih lagi di luar negeri. Peluang yang cukup besar ini pun ditanggapi secara positif. Terbukti dengan tingginya minat untuk masuk ke prodi ini. Pada tahun 2003, tercatat sekitar 90-100 orang yang mendaftar masuk ke prodi ini. Meskipun begitu, hanya 60 orang yang diterima. "Karena kami masih baru, sehingga yang kami utamakan adalah kualitas. Kalau terlalu banyak, kami khawatir tidak bisa menanganinya dengan baik," tambah Desak. PKM dibentuk untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan tenaga kerja untuk K3. Hal ini berkaitan dengan ketentuan Depnakertrans. "Setiap perusahaan yang memiliki karyawan di atas 100 orang atau di bawah 100 orang yang memiliki bahaya K3 harus mempunyai tenaga kerja untuk K3," Ketua Jurusan PKM Sunawar, S KM. Meskipun baru, namun Prodi Keperawatan memiliki persiapan yang cukup matang. Hal ini mengingat UPN sudah memiliki Akademi Keperawatan dan Prodi Kedokteran. Sehingga memudahkan dalam hal fasilitas dan tenaga pengajar. Untuk meningkatkan kualitas mahasiswanya, Prodi Keperawatan melakukan kerja sama denga berbagai pihak. Seperti seperti RS Puri Cinere, RS Harapan Bunda, serta RS TNI atau Polri. Bentuk kerja sama ini antara lain untuk keperluan magang yang nantinya bisa berlanjut ke proses rekrutmen dengan prioritas. Kemudian juga dengan PJTKI dalam hal pengiriman tenaga kerja perawat ke luar negeri, seperti Belanda dan Qatar. PKM juga bekerja sama dengan Badan Pusat Pengembangan Kesehatan, Pusat Profesi Tenaga Kesehatan yang menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan, dan Subsudin Kesehatan Masyarakat Jakarta Selatan. PKM juga melakukan kerja sama dengan Depnakertrans untuk tenaga pengajar dan fasilitas belajar. Ada juga tenaga pengajar yang didatangkan dari Departemen Kesehatan, FKM UI, dan TNI. PKM berencana menjadi fakultas sendiri. Latar belakang dibuatnya prodi kedokteran umum di UMJ juga tidak jauh berbeda. Pihak UMJ melihat Muhammadiyah memiliki banyak rumah sakit namun belum memiliki prodi kedokteran sendiri. Bahkan, fasilitas rumah sakit yang ada selama ini hanya digunakan untuk kepentingan perguruan tinggi lain. Hal lainnya adalah tingginya kebutuhan masyarakat akan tenaga dokter yang memberikan pelayanan berkualitas dengan harga murah. "Melihat hal itulah kami berniat untuk melahirkan 'dokter santri' sendiri," tambahnya. Untuk mewujudkan cita-citanya menciptakan 'dokter santri' itu banyak persiapan yang dilakukan UMJ. Di antaranya adalah mengharuskan setiap mahasiswa kedokteran umum UMJ untuk tinggal di asrama yang disediakan oleh pihak kampus. Bahkan disediakan juga perpustakaan yang beroperasi selama 24 jam. Sehingga mahasiswa dapat lebih berkonsentrasi dalam belajar dan dapat dengan mudah mendapatkan informasi sebagai bahan pembelajaran. Di perpustakaan tersebut juga disediakan lebih kurang 9.000 judul jurnal yang dapat diakses melalui internet. Ketika awal dibuka pada tahun 2003, prodi kedokteran umum UMJ hanya mendapatkan kuota sekitar 75 mahasiswa. Kemudian bertambah menjadi 80 mahasiswa pada tahun berikutnya. Setelah itu bertambah lagi menjadi 100 mahasiswa hingga sekarang. Untuk ke depannya, UMJ berniat mendapatkan kuota lebih banyak untuk prodi kedokteran umum ini. Untuk menjaga kualitas pendidikannya, prodi kedokteran umum UMJ tergabung dalam berabagai forum dan organisasi profesi. Di antaranya Forum Kedokteran Islam (FOKI), Majelis Forum Kedokteran Swasta Indonesia (MFKSI), Asosiasi Pendidikan Kedokteran Indonesia (APSI) dan Forum Kedokteran Swasta (FKS). "Dengan ikut serta dalam organisasi seperti ini, segala perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan kedokteran dapat kami ikuti terus. Jadi kami tidak ketinggalan dari yang lain," tambahnya. Ci1 |
posted by Mastok at 2:27 AM

