Monday, August 6, 2007
| Senin, 30 Juli 2007 Go International dengan Dual Degree Dual Degree mulai diminati mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi. Globalisasi yang terjadi dewasa ini menyentuh hampir semua bidang, termasuk pendidikan. Fenomena ini, telah mendorong institusi pendidikan di Indonesia mencoba untuk menyamakan kedudukannya dengan universitas lain di dunia. Salah satu caranya adalah dengan membuka program Dual Degree. Program ini dikembangkan baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta, untuk jenjang S1 maupun pasca sarjana Dual Degree adalah program yang menawarkan gelar atau ijasah ganda kepada mahasiswanya. Pada program ini, universitas bekerja sama dengan universitas di luar negeri yang memiliki nama dan kualitas yang sudah terbukti. "Dual Degree dimaksudkan agar dapat meningkatkan posisi dan kualitas pendidikan universitas," ujar Wakil Rektor I Usakti Ir Asri Nugrahanti IA, MS. Universitas Trisakti (Usakti) telah menerapkan program Dual Degree sejak 1996. Program ini, kata Asri, dimaksudkan untuk memposisikan Usakti sebagai universitas yang bertaraf internasional. Dual Degree diterapkan di S1 dan pascasarjana. Untuk S1 Usakti menjalin kerja sama dengan Edith Cowan University (Australia), Indiana University dan University of Missouri (Amerika Serikat), Inholland University (Belanda), dan Saxion University Deventer (Belanda). Kerjasama ini untuk program studi Manajemen, Teknik Informatika dan Teknik Lingkungan. Dual Degree untuk jenjang pendidikan pascasarjana atau yang dikenal dengan TIBS (Trisakti International Business School) dilakukan dengan Colorado State University, Maastricht School of Management, Cape Breton University dan University of Technologi Sydney. Di Usakti peminat untuk TIBS sebelumnya sangat tinggi. Namun belakangan ini mengalami penurunan. Asri menduga penurunan minat berkait dengan biaya. Untuk program TIBS dibutuhkan biaya sekitar Rp 200 juta. Dual Degree disebut Asri memberikan kelebihan tersendiri. Selain karena memiliki dua ijasah atau dua gelar, mahasiswa juga memiliki pengalaman kuliah di luar negeri. Dual Degree Usaksi menggunakan pola 2 + 2. Yakni dua tahun di Usakti dan dua tahun di universitas mitra kerja sama Usakti. Melalui program ini, dalam waktu sekitar dua tahun diharapkan mahasiswa sudah dapat merasakan kehidupan di negeri tersebut. Khusus Dual Degree dengan Edith Cowan University, menggunakan sistem 15 mata kuliah. Di mana delapan mata kuliah dijalani di Usakti dengan dosen Edith Cowan University yang didatangkan ke Usakti. Sedangkan tujuh mata kuliah sisanya dijalani di Australia yang dijalani mahasiswa sekitar tiga bulan. Hal lain yang menjadi keuntungan Dual Degree di Usakti, kata Asri, mahasiswa yang ingin mengikuti Dual Degree tidak perlu menjalani tes masuk ke perguruan tinggi mitra. Yang diperlukan hanya nilai TOEFL minimal 550 dan telah menjalani sekitar 80 SKS dengan IPK minimal 2,75. Seringkali, masih ada tes kemampuan berbahasa Inggris. Tes ini untuk mengetahui apakah mahasiswa tersebut dapat mengikuti pelajaran di universitas tersebut. Jika ternyata mahasiswa tersebut diragukan kemampuan berbahasa Inggrisnya, maka mahasiswa tersebut akan menjalani preparation class terlebih dahulu. Program sejenis Dual Degree juga dilakukan Usakti dengan MAHSA, Malaysia untuk Fakultas Kedokteran Gigi. Setelah belajar selama tiga tahun di negaranya, mahasiswa Malaysia dapatk melanjutkan ke Usakti selama satu tahun. Setelah lulus, mahasiswa tersebut akan mendapat ijasah dari Usakti. "Ini lebih kepada program pembinaan yang kami lakukan," tambah Asri Nugrahanti. Di Usakti, program Dual Degree dapat diikuti oleh semua mahasiswa. Biasanya mahasiswa sudah diberikan tawaran untuk mengikuti Dual Degree pada semester kedua. Karena semester tiga dan empat digunakan untuk mengurus visa dan surat-surat lainnya. "Kami memberikan kesempatan untuk semua mahasiswa sementara keputusan untuk mengikuti Dual Degree tergantung dari keinginan dan kemampuan mahasiswa yang bersangkutan," ungkap Asri. Kelas Tersendiri Perguruan tinggi lainnya yang mengadakan program Dual Degree adalah Universitas Bina Nusantara (Binus). Perbedaannya dengan program Dual Degree yang ditawarkan Usakti adalah Binus memiliki kelas tersendiri untuk mahasiswa yang mengikuti program Dual Degree. Atau lebih dikenal dengan nama Binus International. Binus International menawarkan lima program studi. Computer Science yang bekerja sama dengan Murdoch University dan The Royal Melbourne Institute of Technology, kemudian Information System yang bekerja sama dengan Curtin University of Technologi, Marketing yang bekerja sama dengan Curtin University, Art and Design yang bekerja sama dengan Limkokwing University College of Creative Technology, dan Accounting yang bekerja sama dengan Curtin University. Ada juga Macquarie University dan Cologne Business School yang mencangkup semua program di atas. Untuk Macquarie University, Dual Degree yang ditawarkan bukan untuk gelar Bachelor melainkan gelar Master. Hal ini sangat unik, karena di Australia diperlukan satu tahun setengah untuk menyelesaikan program Master. Namun, khusus untuk Binus hanya satu tahun. " Jadi mahasiswa yang kuliah di Macquarie dapat menyelesaikan S1 dan S2 hanya dalam sembilan semester, tujuh semester di sini dan dua semester di Macquarie," jelas Director Binus International Minaldi Loeis, M Sc, MM Kelebihan yang ditawarkan oleh Binus International adalah semua kegiatan akademik menggunakan bahasa pengantar bahasa inggris. "Mulai tugas, mata kuliah, bahkan ospeknya pun digunakan bahasa inggris," tambah Minaldi Loeis. Untuk masuk ke Binus International sendiri memiliki beberapa persyaratan. Selain harus memiliki ijasah SMA, calon mahasiswa juga harus mengikuti ujian TOEFL yang dilakukan oleh institusi TOEFL, dengan nilai TOEFL minimal 550. Kemudian ada ujian TPIU (Tes Potensi Institusi Umum) dari Bappenas, dan interview. Minaldi mengatakan, peminat Binus International mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ia memberikan gambaran, ketika awal dicetuskan pada tahun 2001, pesertanya hanya sekitar 50 orang. Namun untuk tahun ini, telah meningkat hingga sekitar 200 orang. Untuk ke depan Binus Internasional mengarahkan untuk melakukan program Dual Degree namun mahasiswa luar yang akan kuliah di Indonesia. "Mungkin tiga tahun lagi. Karena ini berkaitan dengan rencana kita untuk go-international," ungkap Minaldi. Binus tengah memperluas kerjasama. Minaldi menyebut perguruan tinggi di Inggris dan Australia. Untuk Inggris kerja sama yang akan dijalin adalah kerja sama untuk program studi desain. "Universitas ini merupakan universitas terbaik di dunia dalam hal desain," ujarnya. Untuk program Dual Degree, Binus Internasional mengutip biaya Rp 30 juta untuk satu semester. (CI1 ) |
posted by Mastok at 2:34 AM

