Photobucket



PIMNAS 20 Unila



Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Product ...

Services ...

Other things ...

Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia






ITB menjalin Kerjasama dengan PT. Telekomunikasi I...

Senin, 30 Juli 2007Go International dengan Dual De...

Senin, 30 Juli 2007Meningkatkan Kualitas dengan In...

Senin, 06 Agustus 2007 12:26:00Program Baru, Meto...

umat, 03 Agustus 2007 9:07:00Pesta Rumor di Tenga...

Minggu, 05 Agustus 2007Kuliah di PTN Lebih Mahal D...

Rabu, 10 Maret 2004Trilogy of Governance (I) Corpo...

Informasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat NasionalR...

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1. Dasar Pemikiran...

onmouseover='this.stop()' onmouseout='this.start()...




  • ABC Australia
  • Asian Wall Street Journal
  • Australian Financial Review
  • BBC News
  • Bisnis
  • Detikcom
  • Guardian
  • Jawa Pos
  • Kompas
  • Kontan
  • Media Indonesia
  • Salon
  • Slate
  • Sydney Morning Herald
  • The Age
  • The Australian
  • The Jakarta Post
  • Today Singapore
  • Washington Post
  • Wired
  • Abdurrahman Wahid
  • Fauzi Rahmanto (Entrepreneur)
  • Agussyafii
  • Adi J. Mustafa
  • Adrian Liem
  • Ady Permadi
  • Agusti Anwar
  • Alin Hulsbos
  • Anastasia Dyah Arianti
  • Anif Putramijaya
  • Anthony Bachtiar
  • Arif Bastari
  • Aryan Wirawan
  • Astri Onengan
  • Awasi Parlemen
  • BAPPENAS
  • CETRO
  • Chika Hakim
  • CSIS
  • Dana Mitra Lingkungan
  • Dee Caniago
  • Deny
  • Dept. Kelautan & Perikanan
  • Dhian Komala
  • DKI Jakarta
  • DPD RI
  • DPR RI
  • Enda Nasution
  • Faisal Basri
  • Fareed Zakaria
  • Fatayat NU
  • Fathia Syarif
  • Fira Basuki
  • GP Ansor
  • Harry Baskoro
  • Helsusandra Syam
  • Hendra Syahputra Blog
  • Hendy Kosasih
  • Hidayat Nur Wahid
  • Hukumonline
  • Ikhlasul Amal
  • ILD (Hernando de Soto)
  • Indonesia Corruption Watch
  • INFID
  • Institute for Global Justice
  • International IDEA
  • Iwan Darmansjah, MD
  • J.H. Wenas
  • Jarak Pagar
  • Jaringan Islam Liberal
  • Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat
  • John MacDougall
  • Jurnal Perempuan
  • Juwono Sudarsono
  • Kemitraan
  • Komisi Pemilihan Umum
  • Lakpesdam NU
  • Lembaga Survei Indonesia
  • Leuser Foundation
  • LP3ES
  • Marina Mayangsari
  • Marissa Haque
  • MER-C
  • MPR RI
  • Muhammadiyah
  • Mustofa Bisri
  • Nahdlatul Ulama
  • Nurul Arifin
  • Petisi Nasional
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • PSHK (Parlemen)
  • Rahman Sayidi
  • RAND Corporation
  • Rendy Maulana
  • Republik Indonesia
  • Sari Koeswoyo
  • Sarwono's Blog
  • Senopati Wirang
  • Sigit Widyananto
  • Suara Publik
  • Sulfikar Amir
  • Susilo Bambang Yudhoyono
  • Sutiyoso
  • Syahrani
  • Tito
  • Transparansi Indonesia
  • Uncu Natsir
  • Uni Sosial Demokrat
  • USAID
  • Van Zorge Report
  • Wahid Institute
  • WALHI
  • Wana Sherpa
  • Wimar Witoelar
  • Yosef Ardi
  • Zukri Saad
  • A. Fatih Syuhud
  • Alief A. Rezza
  • Aree Witoelar
  • Arif M Rizal
  • Astrid Lewarissa
  • Aulia Halimatussadiah
  • Bill Guerin
  • Brainstorm
  • Budea
  • Budi Putra
  • Cafe Salemba
  • Christine Susanna Tjhin
  • Clara Lila
  • Daisy Awondatu
  • Deden Rukmana
  • Devi Girsang
  • Dian Karnina
  • Eko Susilo
  • Enda Nasution
  • Erna Indriana
  • Fadjar I. Thufail
  • Fanny Surjana
  • Fira Basuki
  • Franova Herdiyanto
  • Harum
  • Hayatuddin Mansur
  • Herdiny Wulandari
  • Indonesia Anonymus
  • Jakartass
  • Jennie S. Bev
  • John MacDougall
  • Juwono Sudarsono
  • Kalbu Biru
  • Khatrine Sipahutar
  • Lita Mariana
  • Louise Tiwon
  • Lullu
  • Luluk
  • Macam-Macam
  • Madame Meltje
  • Marsha Siagian
  • Martin Manurung
  • Melda Wita
  • Mohammad DAMT
  • Ninit Yunita
  • Onoloro
  • Paras Indonesia
  • Priyadi Iman Nurcahyo
  • Rasyad A. Parinduri
  • Richard Lloyd Parry
  • Rizka Nurlita Andi
  • Sandhy<;/li>
  • Sarwono Kusumaatmadja
  • Satya Witoelar
  • Syahrani
  • Thang Nguyen
  • Widya Tresna Utami
  • Wisnu Aryo Setio
  • Yassin Hidayat
  • Yosef Ardi
  • Machinery Tool
  • Movie Music Reviews
  • Pet Supply Store
  • Easy Light Digital
  • Jewelry Buying Guides
  • Talk About Cancer
  • New Car Auto Part
  • Baby Stores
  • Online Florist
  • New Car Auto Part
  • a target="_blank" href="http://www.finalsense.com/software/software_information_review.htm">Downloads
    Technology News
    Templates
    Web Hosting
    Articles
    Games
    Blogger
    Google



    Blogger

    FinalSense

    Amazon

    Yahoo

    Ebay

    Friday, August 10, 2007
    March 14, 2005
    Hegemoni Ekonomi dan Pengembangan Perguruan Tinggi

    HUBUNGAN pendidikan tinggi dan pembangunan ekonomi tidaklah selinear gambaran Amich Alhumami (Kompas, 6/8/2004) bahwa “keberhasilan membangun pendidikan akan berpengaruh terhadap kesuksesan pembangunan ekonomi.” Telah sejak lama tesis ini harus dibaca dari sudut pandang sebaliknya.



    TAHUN 1986 Van Hoof & Van Wieringen mengatakan dalam suatu konferensi pendidikan tinggi Eropa, “Jika pemerintah suatu negara tidak secara serius memerhatikan arah dan pengelolaan pendidikan tinggi di negaranya, dapat dipastikan pembangunan ekonomi negara tersebut akan terhambat.”

    Namun, kalaupun pendidikan tinggi (PT) ditangani sungguh-sungguh, belum tentu ekonomi dapat berkembang dan maju karena pengaruh faktor-faktor lain, seperti makroekonomi. Jadi, meski dinamika sektor tetap harus diperhitungkan dalam perumusan strategi pengembangan pendidikan tinggi, pencapaian ekonomi bukanlah ukuran utama keberhasilan/kegagalan pendidikan tinggi.

    Hubungan tidak linear antara PT dan sektor ekonomi disebabkan oleh pergeseran paradigma penyelenggaraan PT sebagai akibat langsung industrialisasi modern pasca-Perang Dunia II. Para pakar ekonomi sosial, seperti Castells (2000), Callinicos (1999), dan Rifkin (2000) mencatat, semangat membangun kembali setelah perang melalui industrialisasi modern menumbuhkan tuntutan pragmatis masyarakat atas peran PT. Pola pengelolaan modal industri membentuk persepsi masyarakat bahwa investasi ekonomi dalam bidang pendidikan juga harus kembali dalam bentuk profit ekonomi. Akibatnya, tolok ukur masyarakat atas keberhasilan pendidikan adalah kerja yang mengembalikan investasi.

    Dewasa ini penyelenggaraan PT dijauhkan dari diskursus perubahan sosial (Giroux, 2001) dan lebih terfokus melayani secara pragmatis kebutuhan perkembangan ekonomi. Ini membuat pengelola PT tidak konsisten. Misalnya, rumusan salah satu misi sebuah PT berbunyi: “Menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi tepat guna dan mampu menerapkannya secara humanis.” Dibuat indikator operasional “menguasai teknologi tepat guna dan mampu menerapkannya”, tetapi tidak ada upaya menjabarkan “secara humanis” yang terukur.

    Situasinya berbeda

    Jika harus dikaji dalam hal sumbangannya terhadap pembangunan ekonomi, PT di Indonesia tidak atau belum dapat disejajarkan dengan di negara-negara anggota G7 maupun anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development).

    Pertama, fundamental ekonomi dan keajekan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini jelas tidak sebanding dengan negara-negara G7 dan OECD. Jika di Amerika Serikat pembangunan pendidikan menyumbang 14 persen terhadap pertumbuhan ekonomi sebagaimana dirujuk Alhumami, itu tak lepas dari pola perkembangan ekonomi AS yang dasarnya memang sudah mantap, sehingga kalangan PT di AS memperoleh pijakan relatif “tetap” dan jelas bagi pengembangan program pendidikan yang mampu menyuplai kebutuhan pembangunan ekonomi selanjutnya. Profil pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, saya yakin, belumlah sekokoh AS.

    Kedua, bukan hanya usia, tetapi juga sistem dan tradisi pendidikan tinggi kita belum sekuat dan semengakar di negara-negara G7 dan OECD. Landasan keilmuan masyarakat PT kita masih rapuh, tercermin dalam indikator sederhana, seperti rendahnya frekuensi membaca buku dosen dan mahasiswa, minimnya produktivitas karya dosen di luar pengajaran, dan rendahnya penguasaan dosen atas bidang ilmunya.

    Secara umum, PT kita masih berkutat pada masalah survival, baik secara institusi berkaitan biaya operasional penyelenggaraan maupun secara individual menyangkut gaji dosen dan karyawan. Akibatnya, setiap perubahan yang berhubungan dengan “ketahanan hidup” langsung memengaruhi dinamika PT. Contoh paling jelas adalah pemberian status Badan Hukum yang membawa implikasi pengurangan secara signifikan subsidi pemerintah atas pembiayaan sejumlah PTN.

    Di negara-negara maju, meskipun hal pendanaan memainkan peran penting, performance PT tidak serta-merta terpengaruh. Misalnya di Belanda, untuk setiap doktor yang telah diluluskannya, PT memperoleh suntikan dana 100.000 euro lebih dari WOTRO, lembaga riset pemerintah semacam LIPI di Indonesia.

    Namun, kebijakan ini tidak membuat institusi-institusi PT di negara itu melonggarkan standar mutu agar dapat menerima dan meluluskan mahasiswa doktor sebanyak-banyaknya demi suntikan dana tersebut. Kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika kebijakan serupa diterapkan di Indonesia saat ini.

    Fokus pengembangan PT

    Untuk kondisi Indonesia, harus diakui bahwa meski dirasa penting dan perlu, kerja sama PT dan dunia industri/usaha dan dunia kerja umumnya masih sulit terwujud secara kokoh dan komprehensif. Tidak mudah memperoleh gambaran fokus pembangunan ekonomi Indonesia saat ini. Apakah itu sektor industri dan manufaktur, sehingga dibutuhkan insinyur- insinyur teknik industri dan sipil? Apakah fokusnya sektor jasa yang membutuhkan sekian ribu ahli madia dan sarjana profesi bidang-bidang jasa? Apakah sektor pertanian dan kelautan? Jika fokus pembangunan ekonomi tidak jelas, bagaimana pengelolaan PT harus diarahkan menjawab tantangan dunia kerja sektor-sektor ekonomi?

    Sementara itu, seperti sudah disinggung sebelumnya, masyarakat PT kita belum memiliki landasan hukum keilmuan yang solid dan militan. Dengan kata lain, PT di Indonesia belum memiliki identitas mutu yang keunggulannya terbedakan. Standar apa, misalnya, menjamin bahwa kemahiran berbahasa Inggris sarjana S1 Bahasa Inggris lebih memadai daripada lulusan SLTA yang menyelesaikan program di suatu lembaga kurus bahasa Inggris bonafide? Rapuhnya landasan keilmuan membuat respons PT terhadap tuntutan perkembangan ekonomi selama ini lebih tampak sebagai keterombang-ambingan masyarakat PT di tengah arus perubahan daripada kelenturan menyesuaikan diri secara cerdas.

    Melihat itu semua, pengembangan PT di Indonesia mungkin lebih baik difokuskan dulu pada perbaikan mutu yang terkait dengan soliditas dan militansi keilmuan. Hanya jika PT sungguh-sungguh bermutu maka sumbangannya terhadap pembangunan ekonomi dapat diharapkan.

    Dimuat di Kompas, Senin 30 Agustus 2004



    0 Comments:

    Post a Comment

    << Home